Selasa, 25 Januari 2022

Trend Narkoba di Kalangan Remaja



Oleh: Suci Wulandari
PAIN KUA Kecamatan Negeri Agung

Khamar dan segala macam jenisnya telah diharamkan secara jelas dan tegas dalam Al Quran. Namun, obat-obatan terlarang seperti narkotika tak disebutkan secara eksplisit dalam Al Qur’an maupun Hadis. Hal ini menjadi alibi bagi para pemakai narkoba yang menyatakan tak ada larangan baginya mengkonsumsi narkoba. Tentu, alibi tersebut salah, bukan?
Padahal  narkotika dan obat-obatan terlarang, seperti ganja, heroin, dan lainnya disebut dengan istilah mukhaddirat. Hukum mengonsumsi benda-benda ini, apa pun bentuknya, telah disepakati keharamannya oleh para ulama. Tak ada satu pun ulama yang menyelisihkan keharaman mukhaddirat tersebut. Para ulama sepakat dengan keharaman narkotika.

Para ulama mengqiyaskan hukum mukhaddirat pada hukum khamar. Mereka berdalil dengan hadis yang dikemukakan Umar bin Khattab RA, "Khamar adalah segala sesuatu yang menutup akal." (HR. Bukhari Muslim). Jadi, narkotika masuk dalam cakupan definisi khamar seperti yang disebutkan Umar bin Khattab, RA.

Dalam konteks yang lebih luas, Rasulullah SAW bersabda. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang sengaja menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati, maka dia di neraka Jahanam dalam keadaan menjatuhkan diri di (gunung dalam) neraka itu, kekal selama lamanya. Barang siapa yang sengaja menenggak racun hingga mati maka racun itu tetap di tangannya dan dia menenggaknya di dalam neraka Jahanam dalam keadaan kekal selama-lamanya. Dan barang siapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan ada di tangannya dan dia tusukkan ke perutnya di neraka Jahanam dalam keadaan kekal selama-lamanya." (HR. Bukhari Nomor 5778 dan Muslim Nomor 109).

Menjadi sangat jelas dan tegas tentang keharamannya terkait khamar, narkotika dan obat-obatan terlarang lainya. Ketegasan hukum ini harus dimaknai sebagai bentuk kasih sayang yang Allah SWT berikan kepada manusia. Tentu, salah satu tujuanya adalah membahagiakan manusia itu sendiri.

Dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dijelaskan bahwa narkotkan  adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan.

Bila menilik dari sejarah narkoba dunia, awalnya manusia menggunakan narkoba untuk pengobatan. (Sebagai contoh ganja yang pada abad 19 digunakan untuk berbagai penyakit seperti insomnia, penyakit jantung dan infeksi. Tujuan awal adalah alasan medis dan demi pengobatan manusia.
Inilah realitas penyalahgunaan yang terjadi di dunia, bahkan di Indonesia. Begitu banyaknya kasus kasus penyalahgunaan narkotika terjadi. Mungkinkah masyarakat sudah mengabaikan tentang nilai moralitas dalam kehidupan?
Sebagai gambaran sederhana dan bisa kita saksikan di media sosial dan elektronik. peristiwa penangkapan selebriti nasional yang diakibatkan mengunakan narkotika. Dari rata rata selebriti yang tertangkap, sebagian besar adalah remaja atau dewasa muda. Sebut saja artis berinisial RN dan AP  yang kesemuanya adalah idola para remaja di Indonesia.
Seperti yang sedang terjadi sekarang, trend narkoba yang mulai merambah kalangan remaja di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.  pertanyaannya mengapa narkoba menjadi trend di kalangan remaja? Tentu jawabannya sangat beragam.
Bisa jadi jawaban itu mengenal sebagai alat penenang, ragam persoalan kehidupan, persoalan ekonomi bahkan persoalan cinta. Da juga yang berdalih hanya sekedar mencoba, rasa ingin tahu yang sangat besar. Dari situlah kemudian menjadi kecanduan.
Lantas dari mana mereka mengenal narkotika? Mungkin kita sudah tidak asing dengan kutipan,“jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka insya Allah  kita juga akan ketularan wanginya akan tetapi jika berteman dengan pandai besi maka akan tercium juga bau hangusnya”. Sama seperti itulah dahsyat nya sebuah circle pergaulan dan pertemanan.
Sifat manusia yang mudah terpengaruh dengan alam sekitar, menjadi poin tersendiri. Kemudian sifat ingin mencoba sesuatu yang baru menjadikan penyebab tersendiri. Artinya, begitu banyak pola yang dapat memengaruhi kita. Semuanya dikembalikan kepada kita bagaimana bersikap.
Seperti yang kita ketahui bersama pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan. Lalu, bagaimanakah masa depan akan gemilang, apabila calon pemimpinnya para pemakai narkoba? Hal ini menjadi tugas kita sebagai penyuluh agama islam khususnya spesialisasi Penyalahgunaan Narkoba dan HIV/AIDS.
Ini adalah tugas dari seluruh elemen bangsa. Bertindak sekaligus berbuat agar peredaran narkoba di kalangan pemuda dapat dihentikan. Berupaya dengan kesungguhan untuk memerangi narkoba. Melangkah bersama sama sekaligus bergandeng tangan memutuskan rantai narkoba di Indonesia.
Saya yakin, para penyuluh yang membidangi narkoba mempunyai beragam cara. Memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada kelompok binaan remaja dan pemuda adalah point penting. Menyampaikan dampak yang ditimbulkan adalah bagian yang juga tidak bisa dipisahkan dari proses penyuluhan kepada masyarakat.
Akhirnya, sebuah harapan hadir. Berharap agar generasi muda mampu berpikir jauh kedepan. Sebuah cita-cita dan impian akan dapat dengan mudah tercapai tanpa narkoba. Yakinlah tentang hal itu.

Say No To Narkoba!

 

Negeri Agung, 25 Januari 2022 


 



Senin, 24 Januari 2022

Menghitung Keberkahan


Ira Kartika
PAIN KUA Kecamatan Baradatu

Sering kali kita mengeluh dari pada berusaha untuk mensyukuri dan menikmati keadaan. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa kita sering mengeluh ? kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan atau keinginan kita. Dan kita perlu menyadari bahwa hal ini akan terjadi hampir setiap hari dalam kehidupan. Yakni, sebuah kenyataan yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Dengan kondisi tersebut, kita selalu memikirkan kesulitan–kesulitan hidup. Aktifitas tersebut tentu sangat merugikan diri kita. Mulailah menghitung jumlah keberkahan demi keberkahan yang telah kita terima. Coba tanyakan kepada diri anda, jika anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu mengucapkan kata-kata positif dan yang kedua selalu mengelu, anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana ?
Saya yakin jawaban anda adalah teman yang pertama karena pada dasarnya semua orang senang berhubungan dengan orang-orang positif. Karakter ini adalah yang perlu dimiliki semua orang. Karakter yang didalamnya mempunyai motivasi untuk membangun, meneguhkan dan menguatkan.
Mengeluh hanya akan menguras tenaga dan membuang waktu kita dengan percuma. Menggerutu tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, justru malah menambah beban. Demikian juga menyesali keadaan dari peristiwa yang terjadi. Semuanya hanya membuang waktu percuma.
Kata-kata positif memang tidak langsung mengubah keadaan. Namun setidaknya kita memiliki suasana hati yang lebih baik. Hati dan pikiran yang tenang akan membuat pribadi kuat dalam menghadapi masalah apapun. Seberat apapun cobaan, akan dengan ikhlas menjalani.
Jika kondisi diatas telah ada, maka sudut pandang kita akan terarah kepada pola berpikir positif. Sebab berpikir positif merupakan pola dari sebuah kerangka berfikir yang objektif. Hal ini sangat diperlukan manusia dalam menjalani aktivitas keseharian.
Menurut para ahli, berfikir positif adalah kemampuan berpikir seseorang untuk menilai pengalaman-pengalaman dalam hidupnya, sebagai bahan yang berharga untuk pengalaman selanjutnya dan menganggap semua itu sebagai proses hidup yang harus diterima. (Peale; 2006: 135).
Berpikir positif merupakan pikiran yang membangun dan memperkuat kepribadian dan karakter. Ini juga berarti bahwa kita bisa menjadi pribadi yang lebih matang, lebih berani menghadapi tantangan dan melakukan hal-hal yang sehat. (Sakina; 2008:2).
Jadi, berpikir positif merupakan sebuah sikap mental yang harus dijaga. berpikir positif akan mampu melahirkan sikap optimis, penuh keyakinan dalam menjalni proses kehidupan. dengan sikap tersebut, maka nilai-nilai kebajikan akan diperoleh manusia.
Kita harus optimis menghadapi persoalan kehidupan. Percayalah bahwa di balik semua hal yang kita sering keluhkan, pasti ada hal yang dapat kita syukuri. Bersyukur atas semua yang telah diberikan Allah SWT. Kita harus yakin bahwa, apapun yang telah diberikan adalah yang terbaik.
Dalam konteks yang lebih luas, kehiduapan dalam keluarga juga mengharuskan adanya sikap optimis. Berkeluarga merupakan bagian dari kehidupan yang juga memiliki persoalan tersendiri. Maka optimis yang disertai dengan bersyukur, akan menjadikan kehidupan yang baik.
Dalam hal bersyukur, Allah SWT, telah berfirman dalam Al Qur’an:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”). (Q.S 14: 7).
Dalam ayat diatas, bersyukur merupakan perintah. Allah SWT memerintahkan agar manusia untuk selalu bersyukur. Jika hal ini dilakukan, maka janji Allah SWT akan memberikan tambahan nikmat kepada manusia.
Bersyukur atas segala nikmat yang diberikan adalah langkah terbaik. Bersyukur diberikan keluarga yang harmonis. Bersyukur mampu melaksanakan ibadah tanpa ada gangguan. Bersyukur mampu beraktifitas dalam dunia yang sementara ini.
Mulailah ambil waktu untuk bersyukur setiap hari bersyukurlah atas pekerjaan kita, kesehatan kita, teman-teman kita, keluarga kita atau apapun yang dapat kita syukuri. Apabila tidak dapat berkata-kata yang baik ada baiknya kita untuk tidak berkata-kata sama sekali.
            Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup kita akan lebih mudah dan keberuntungan hidup akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalau bersama kita. Kalau semakin banyak kita bersyukur atas apa yang kita miliki, maka akan semakin banyak hal yang akan kita miliki untuk di syukuri.
Sebaliknya, jika semakin banyak kita mengeluh atas masalah yang kita alami, maka jangan semakin banyak masalah yang kita alami untuk di keluhkan. Kehidupan ini tidak akan selesai dengan keluhan yang kita utarakan. Kehidupan ini membutuhkan perjuangan bukan hanya keluhan-keluhan yang tiada bermakna.
            Belajarlah berdiam diri sejenak dan setelah itu lihat apa yang akan terjadi. Jangan mengeluh jika mengalami kesulitan. Yakinlah bahwa kesulitan akan dapat kita atasi. Sebab kesulitan hidup adalah niscaya, tapi menyelesaikan kesulitan itu jauh lebih penting.
            Jika masalah menimpa kita, langkah terbaik adalah berdiam diri seraya menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Berdiam diri bukan bermakna pasrah total terhadap apa yang menimpa. Berdiam diri merupakan langkah yang tepat jika dibandingkan dengan berkeluh kesah.
            Dalam konteks ini, Rasulullah SAW telah bersabda, Barang siapa beriman kepada allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah”. ( HR. Bukhari dan Muslim )
          Poin pentingnya adalah usaha dengan sebaik-baiknya. Mengisi kehidupan ini dengan semaksimal mungkin. Mengisi kehidupan dengan nilai-nilai kebajikan yang berdasarkan Al Qur’an dan Hadist. Mengisi kehidupan ini dengan banyak memberikan manfaat kepada orang lain.
        Dengan demikian apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita, akan bermanfaat bagi kehidupan. Jika harta yang Allah SWT berikan, maka harta tersebut akan menjadi berkah. Jika keluarga, maka akan menjadi keluarga yang sakinah, mahadah Wa rohmah. Keluarga yang damai dipenuhi kasih sayang dan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.
            Semoga.

 

Baradatu, 17 Januari 2022

Jumat, 21 Januari 2022

Episode Bahuga I (Menikmati Kenyamanan)

 

Oleh: Munawar
PAIF Kemenag Way Kanan

            Tulisan ini, tentunya tidak akan menceritakan bagaimana pertempuran Patih Gajah Mada. Bukan juga perjuangan Tuanku Imam Bonjol melawan Penjajah Belanda. Juga bukan cerita sejarah Mesir Ilir yang melegenda. Terlebih lagi cerita tentang kegiatan Bandung Bondowoso. Bukan itu.
            Cobalah bertanya kepada Pak Yusuf yang bergelar “Kakek Segala Tahu”, tentang sungai yang menjadi background swafoto yang asyik. Bisa juga bertanya kepada Hidayat, sang kameramen baru. Bertanyalah tentang semangat juang yang membahana. Mengalahkan semua kenyamanan yang ada.
            Agenda awal tahun 2022 dan sekaligus di pimpin Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kemenag Way Kanan, sungguh luar biasa menyenangkan. Bersilaturrahmi kepada rekan-rekan Penyuluh di kecamatan. Mengurai tawa, cerita dan seduhan kopi.

            Bahuga. Sungguh menyenangkan untuk di kunjungi. Alam yang masih asri dengan persawahan membentang. Udara yang sejuk menambah keasyikan untuk menikmati Bahuga secara langsung. Beruntunglah, kawan-kawan yang mengikuti agenda “Penyuluh Berbagi” yang rutin diselenggarakan oleh FKPAI Kemenag Way Kanan.

            Ah, abaikan saja celotehan Ketua FKPAI tentang kekuatan istri. Yakin saja, “Penguasa Jalanan” Ust. Hasan Isro sudah mendapatkan ijin khusus. Istilah yang membuat tertawa adalah “polisi dapur” (polda). Tapi...maaf nih, salah tidak ya menuliskan kata itu. Semoga saja tidak salah penggunaan dalam canda yang membuat Mr. Edi tertawa terpingkal-pingkal.
            Ada bukti outentik tentang kisah itu. Kisah perjalanan dan juga kisah pertemuan dengan penyuluh yang kreatif. Cerita tentang pertandingan sepak bola yang seru sampai cerita menjadi “penyelamat” para janda. Cerita terakhir inilah yang mampu membuat “Ust. seribu mushola” berdeham cukup kencang sambil menahan kantuk.
            “Kan, Penyuluh harus kreatif, to,” ujar Dayat sembari mengarahkan kamera saat menyambut Ketua FKPAI Kecamatan Bumi Agung, Yai Mansuruddin.
            “Ini mah kelewat kreatif, jika ngajak boncengan,” sahut Boim sambil tertawa yang di ikuti oleh tawa kebersamaan.
            “Tapi nyaman kan berboncengan?” ujarku sambil menyeruput kopi.
            Kedatangan Korcam Bumi Agung malam itu, justru menambah hangat suasana. Begitu antusias Kang Hasan menyambut kehadirannya. Dengan jurus komunikasi yang di miliki, canda tawa berlangsung riang gembira.
            Dengan semangat Kang Hasan bercerita tentang Si Bungsu. Nama ini cukup terkenal dengan sempurna. Terlebih lagi Si Bungsu mempunyai “musuh bebuyutan”, “Si Abah Centil”. Selalu “bertengkar” kapanpun dan di manapun. Selalu ramai dunia dan se isinya jika keduanya bertemu. Menarik jika untuk sebuah kebersamaan.
            Jujur aku sempat bingung dengan istilah “polda” dan layangan putus. Istilah yang sebenarnya ragu untuk aku tulis. Takut kena “pasal” penulisan. Namun ternyata istilah itu begitu kocak mampu membuat tertawa. Hmm ..., ternyata “polisi dapur”. Hehehe.
            Istilah kedua, ternyata sebuah judul sinetron. Aku sempat tepuk jidat. Ternyata para pecinta sinetron juga. Lumayan, ternyata ada juga yang menyukai cerita yang di tulis oleh Mommy ASF di Facebook. Nah, cerita nyata yang diangkat menjadi cerita yang mempunyai banyak penggemar.
            Sebenarnya, mata sudah mulai menggoda, meskipun suguhan kopi masih tersisa. Demikian juga, Yai Mansyurudin juga masih ingin bercerita tentang banyak hal. Aku mengisyaratkan untuk jangan melanjutkan dahulu. Bisa sampai subuh jika poin “penyelamatan” selalu muncul.
            Membersamai orang-orang hebat nan unik, memang mengesankan. Berbaur bersama terang lampu milik Mr. Edi yang begitu meyakinkan. Banyak hal yang bisa aku peroleh dari sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Nyaman sungguh nyaman.
            Pembelajaran yang muncul adalah pola penggunaan perspektif saja. Sebuah sudut pandang. Jika mampu memaknai konsepsi “Penyuluh Berbagi” dengan perspektif berbeda, akan diperoleh substansi yang mengesankan.

            Bukankah begitu duhai pemilik “jepretan” terbaik?

 

Bumi Agung, 18 Januari 2022

 

“Kenyamanan dapat tercipta dari komunikasi yang mengesankan”

(Mr. Egha)

(Bersambung)

Kamis, 20 Januari 2022

ABUYA

 


Oleh: Bukhori
PAIN KUA  Kec. Pakuan Ratu


Sederhana sahaja

hanya segara biru

Membingkai riuh ombak kesahku

Aq tiada harga

Tak sedia ku tuangkan

hanya tahi angin

berhasrat menawarkanmu..


Sederhana sahaja 

Hanya lilin kecil dalam bilik atma

Memerikan kemalaman batin

Aq memayahkan saja

Tiada jasa ku agihkan

Cuma mengantih bermohon

Kiranya tuhan menahbiskan


Pakuan Ratu, 19 Januari 2022

Rabu, 12 Januari 2022

Membersamai Proses Kematangan

Oleh: Munawar
PAIF Kemenag Way Kanan

    Jika para penyuluh disodorkan tiga nama; Shen Tae Yong, Ibrohim dan Aldebaran, Siapakah yang paling dikenal? Jujur saya tidak bisa untuk menerka. Bagi para pecinta bola, sosok pertama yang sudah melekat. Begitu juga, bagi penggemar Sinetron, maka sosok ketiga yang pasti juga terbayang. Lalu siapakah sosok kedua? 

   Saya tidak yakin, kalau semua Penyuluh memahami sosok tersebut. Pembuktian terbaik adalah dengan menggunakan "metode" menyodorkan tiga buah Durian. Apa yang terjadi? Jika hanya mengenal sebagai sosok dan nama, maka akan mengatakan, "Mari kita bagi bersama". Akan tetapi bagi yang memahami, maka sebuah jawaban lain akan muncul.

    Tanyakan saja pada Brother Hidayat, sebuah jawaban pasti begitu semu. Pun jika bertanya pada Gus Yusuf, jawaban pun akan berbeda. Ternyata tiga buah Durian mampu memberikan jawaban yang berbeda. Begitulah dinamika sebuah kebersamaan dalam pertemuan perdana, Senin, 10 Januari 2022.

    Kebersamaan kemarin tentu menyelipkan semangat. Hal inilah yang seyogyanya ada pada setiap penyuluh, tak terkecuali para pengurus Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan. Sebab, arunika tahun 2022 belum lama terjadi. Bukankah begitu asyik menikmati Durian dengan menaburkan sebuah semangat?

    Semangat itu ada pada Nyonya Lidya juga Nona Nining, tentu juga Non Ira dan Bunda Ayni. Jarak yang ditempuh tentu bukanlah perjalanan yang ringan. Membutuhkan tenaga yang ekstra untuk melaluinya. Terlebih lagi cuaca yang membuat was-was. Jika pemahaman geografis tentang Way Kanan cukup bagus, maka akan mendapatkan jawaban jarak tempuh antara Negara Batin, Pakuan Ratu ke Blambangan Umpu.

    Keempat nama diatas adalah para "Srikandi" FKPAI Kemenag Way Kanan. Mereka akan mengarungi lautan tugas bersama Kang Dana, Mas Bro, Aa Hasan, Kang Susanto, Mang Eka, Kang Muslih dan Brother Din. Tentu, sebagai sang nahkoda adalah "penguasa" seribu mushola. Brother Ibrohim.

    Tentu, Ketua FKPAI Way Kanan tidak perlu mengeluarkan ajian Jaran Goyang atau Semar Mesem. Kedua ajian itu tidak diperlukan untuk memberikan semangat kerja. Menyatukan persepsi bahwa Pengurus FKPAI merupakan amanah yang harus terlaksana dengan baik, merupakan langkah bijak. Sebab, persepsi yang tidak menyatu akan menghasilkan buaian kosong ditengah era 4.0. Bukankah begitu duhai para pengurus?

    Diawal ini, Saya memberikan secangkir kopi kebersamaan untuk menisbahkan alur perjalanan FKPAI. Yakinlah bahwa secangkir kopi tersebut bukan bagian dari sebuah amarah, namun bentuk lain dari menjaga sebuah kebersamaan. Yakinlah bahwa kebersamaan dapat menghasilkan kinerja yang mengabadi.

    Ah, rasanya persaksian baju putih kemarin sungguh meneguhkan. Semangat yang ada sudah selayaknya diberikan apresiasi sendiri. Semoga, "perut" kita tidak semakin "membesar", namun kinerjalah yang akan membesarkan seuntai nama.

    Jangan lupa untuk mengetuk pintu langit, sebagai pertanda penghambaan tertinggi. Jangan lupa juga, bahwa alur koordinasi dan birokrasi juga menjadi niscaya adanya. Selamat berkarya dalam sebuah pengabdian dan pengabadian FKPAI Kemenag Way Kanan.

    Mari, kita nikmati arunika dan swastamita melalui penghayatan yang sempurna. Sebab, disanalah secangkir kopi itu menjadi "barang mewah" yang mampu melambungkan asa.


Way Kanan, 12 Januari 2022