Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Januari 2022

Batas Masa

 


Puisi Suci Wulandari
PAIN KUA Kec. Negeri Agung

Primadona malam bercengkerama
Melantun nada tenor seirama
Dengan lagu pengantar sukma
Coba buatnya terlupa 

Bidangnya meleyot 
Kadang ke belakang. 
Seringkali kedepan
Apa mau dikata
Saka meminta lebih padanya

Sambil sesenggukan 
Meramu adicita 
Batin seketika meradang - bergejolak

Ubun hampir meletus
Remnya blong 
Hingga rotasinya labas tersibak     

Ini untuknya
Mahardika karya
Dibatas masa
Jempol yang berharga 

Tugu Meriam Empat Penjuru, 25 Januari 2022

Kamis, 20 Januari 2022

ABUYA

 


Oleh: Bukhori
PAIN KUA  Kec. Pakuan Ratu


Sederhana sahaja

hanya segara biru

Membingkai riuh ombak kesahku

Aq tiada harga

Tak sedia ku tuangkan

hanya tahi angin

berhasrat menawarkanmu..


Sederhana sahaja 

Hanya lilin kecil dalam bilik atma

Memerikan kemalaman batin

Aq memayahkan saja

Tiada jasa ku agihkan

Cuma mengantih bermohon

Kiranya tuhan menahbiskan


Pakuan Ratu, 19 Januari 2022

Selasa, 06 April 2021

Tak Paripurna

 
Ahmad Nursalim

Fikirku tentangnya tak paripurna sampai kini
Indahnya terang  bulan hanya kupandang setengah hati
Detak jantungku sendiri kadang lupa aku syukuri
Ditambah hembusan nafasku masih kerap ku khianati,

Entahlah,, 
Kedangkalan ini  tak kujadikan motivasi
Sebaliknya bangga diri dengan wajah pendosa masih menjadi kekayaan atau properti...
Puncaknya ibadahku pun masih terasa tak sejati

Ini apa?
Akupun tak paripurna,
Jalanku sempoyongan,
Cacatku terbayang dimana-mana

Sementara aku tahu, yang paling dekat adalah mati "Al-Ghazali"

Tapi aku yakini
Bahwa setiap secangkir kopi , ada karna sang peracik...
Maka bimbinglah aku,
Ya Illahi


Negeri Agung, 6 April 2021

Air Mataku

 

Iis Suhaini

Air mataku selalu menetes
Ketika aku terluka karnamu
Selalu ku tahan lukaku
Aku mencoba untuk kuat

Walau mungkin ku tak mampu
Aku selalu tertawa untukmu
Aku selalu memperhatikanmu
Meski ku luka karnamu

Walau kau jauh dariku
Aku akan selalu mengingatmu
Akan ku kenang selalu
Sampai akhir hayatku

Negara Batin, 6 April 2021

Rindu yang Menyakitkan

 


Maryuli


Ayah
Seandainya kau masih disini
Aku ingin bermain dengan mu, memeluk mu.
Menceritakan banyak hal tentang lika liku hidupku

Tetapi
Sekarang ayah sudah tiada
Aku ingin sekali berjumpa 
Sekarang
Aku hanya dapat dekat dengan mu
Hanya dalam do'aku

Ayah
Kepergian mu membuatku
Mengerti bahwa rindu yang paling menyakitkan
Adalah merindukan seseorang yang telah tiada

Namun
Kepergian mu pun
Mengajarakan bahwa tuhan
Selalu ada untuk mendengarkan
Segala do'a dan harapan

Ayah aku rindu


Negara Batin, 6 April 2021

Masih Ada Waktu


Khotif Rifa'i


Saat aku terjaga
Di heningnya malam
Teringat betapa waktu
Yang telah ku lalui
Hiruk pikuk duniawi
Telah jauh
Membawaku tenggelam
Dalam fatamorgana nan fana
 
Tapi,
Aku yakin
Rabb ku
Akan mengampuniku
Masih ada waktu
Aku belum layu
Dan tak akan layu
Akan selalu ada
Untaian do’a bersama istighfarku
Untaian  tasbih yang bergerindang
Dijemari tanpa gumam
Diam menunggu sapaan
Dari “sirr” yang menuntun qolbu
Merindu sang rabb
Dzat yang tanpa definisi

 

Esok,
Di sepertiga malam
Aku akan kembali
Berusaha datang
Mengetuk PintuMU
Yang Entah
Dan aku belum pernah tahu 


Negara Batin, 6 April 2021


Pijar Gelombang

By: Munawar
PAIF Kemenag Way Kanan


Nyanyian itu mengubah sel ketenteraman
meneguhkan jiwa-jiwa patriot para penyuluh
berjibaku melalui lentera kegelapan
tak pernah berhenti menyapa
tak ada keluhan senja
setia
membimbing umat tuk menggapai hidayah

Kobaran keberanian tak menyerah pada hitungan detik
menepiskan segala kesesatan dunia
bersatu berdakwah bersama

Selaksa mentari pagi
membiaskan efek kehangatan pada gurun pengetahuan
yang senantiasa menjaga marwah 
dan nilai-nilai juang sang penyuluh
tetap mengobarkan seruan ilahi
"tegakkanlah amar ma'ruf nahi mungkar"

Sesungguhnya
kesadaran nilai baldatun tayyibatun warabbun ghofur tetap tertancap
pada setiap ujung tombak kehidupan

Pijaran itu
bak gelombang kehidupan yang menyatu
pada setiap derap langkah penyuluh

Pijaran itu
membeku menjadi noktah semangat
menyatu bersama kebahagiaan

Kibaran bendera pada sebuah goresan itu
kemudian merubah kesunyian aksara
menjadi gelombang terdahsyat

Saat itulah
pekikan menggelegar
"Hidup Jayalah Penyuluh Kita"


Way Kanan, 6 April 2021



Bisikan dalam Senja

 

Yusuf Sudarto

Pagi yang tlah berlalu bersama kepakan sayap burung-burung
mengajak tuk bersatu dan berbisik lirih
"Mari kita bangkit dan bersyukur, karena jika kita tidak belajar banyak hari ini, setidaknya kita belajar sedikit, dan jika kita tidak belajar sedikit, setidaknya kita tidak sakit, dan jika kita jatuh sakit setidaknya kita tidak mati; jadi, marilah kita semua bersyukur"

Aku yakin jika fatamorgana itu mampu untuk menghilangkan kehausan
saat mentari beranjak ke peraduanya
disanalah
bidadari itu berbisik lirih
"Kecemasan tidak akan menghasilkan apapun selain sebuah ketakutan. Hanyalah orang yang terus mengeluh yang tidak akan mengenal kata bersyukur di dalam hidupnya, karena disesaki dengan kesedihan...."

Negara Batin, 6 April 2021

Laa Tahzan

 

Nining Kurniasih

Saat hati ini berkata’’ aku lelah’’
Dan saat raga ini berkata ‘’ aku ingin pulang’’
Disaat itulah jiwa ini sedang berada di titik jenuh
Semua pasti pernah merasakannya
Merasa bahwa diri tak lagi berharga
Merasa bahwa semua orang  takmau lagi bersama
Rasa semangat yang dulunya menggebu
Kini tak lagi ada
Namun…
Dalam hati kecil
Seakan ada yang membisik
Dan mengatakan
Jangan bersedih karena sesungguhnya Allah bersamamu
Laa tahzan Innallahama’ana

                                                                        Negara Batin, 5 April 2021


Sang Penerang

 


 Suci Wulandari

Bagai Surya
Hadirnya datangkan cahaya
Pelita dikala dunia berganti rupa
Perlahan membasuh jiwa -jiwa melompong tapi penuh dengan kefanaan buana

 

Jalan penuh kubang, tak jua surutkan semangat juang
Ia tak sendiri .. menerobos lebat pepohonan dan belukar
ada roda dua kesayangannya..
Aahh..mungkin lebih tepatnya roda dua semata wayangnya
Karena melulu itu yang ia bawa.
 

Muncul pertanyaan dalam hati.

Apa yang ia cari?
Apa tujuan hidupnya?
Hingga ia rela berpeluh, berlelah lelah
Meniti langkah yang tidaklah mudah
Hah.. biarlah biarlah itu jadi rahasianya
Yang kami tahu ia selalu tersenyum
Menyambut kami di pelataran masjid
Sampaikan ayat ayat Illahi
Menenun rapih akhlak diri kami.

Dialah Sang Penerang
Suluh kami hingga jadi manusia paripurna
Maaf..kami tak bisa janjikan kepeng dan emas
Hanya untaian kata penuh ikhlas
Semoga lelahmu jadi Lillah

                                                                                                            

                                                                                                Tr. 05/04/2021
                                                                                                            _ciwul_

Kamis, 01 April 2021

Dunia dalam Gurauan

 



Karya Nining Kurniasih
PAI Non PNS Kec. Negara Batin

 

Wahai jiwa yang bernyawa…

Ketahuilah bahwa Dunia itu hanya tempat persinggahan sementara…

Akhirat itu adalah kehidupan yang sebenarnya,,,

Hidup ini singkat, jadi biarkan mereka tertawa sebanyak yang mereka suka didalamnya,,

Tapi….

Ketika kehidupan berakhir dan mereka kembali kepada Allah SWT

Dan yang paling dimuliyakan ,mereka akan mulai menangis selamanya tanpa akhir

Dunia hanya senda gurau…

Terkadang bahagia terkadang pun berubah nestapa

Karena bahagia tak selamanya dan dukapun  ada ujungnya..

Sungguh diri ini sangat rapuh…

Yang hanya berharap pertolongan Rabb nya..

Tanpa –Nya diri ini bukanlah apa-apa

Tanpa Kuasa-Nya diri ini tak kan mampu menjelajahi dunia

Tanpa kasih dan sayang-Nya diri ini takada artinya

Janganlah diri ini melupakan akan kebaikan Rabb nya

Dengan memperbanyak syukur Alhamdulillah

Dan membasahi lisan dengan dzikrullah..

Agar ketika dipanggil berakhir dengan kalimah toyibah..

Dan berjumpa lagi di Jannah-Nya…



 Negara Batin, 31 Maret 2021

 


Kamis, 11 Februari 2021

Pengingat



Oleh: Suci Wulandari
PAI KUA Kec. Negeri Agung


Paras cantik dengan jari lentik bak maharani
Indah pualam ciptaan Mahacipta sejati
harta menutup bongkahnya kurang diri
Sungguh ironi
Ucapmu mampu mengaduk emosi
Menyayat hati
Koyak nurani
Membuat buncah berderai air senja
Suaramu lantang tak mau dikoreksi
Kau memberi dengan dalil saktimu
Sepertinya kau telah hafal dengan serapahmu?
Tahan dulu
Putri Kirani
Aku bukan tak ingat diri
Pun sedikit sedikit punya martabat diri
Perlukah pongah dinda?
Apa kau lupa
Saat nanti selembar kain putih tak bersaku
Terlilit rapih di tubuhmu
Mampukah puing-puing kemewahanmu
Menutupi hinanya dirimu dihadapan Tuhan.

­-ciwul-