Oleh: Munawar
PAIF Kemenag Way Kanan
Bukankah begitu
duhai pemilik “jepretan” terbaik?
Bumi Agung, 18 Januari 2022
“Kenyamanan
dapat tercipta dari komunikasi yang mengesankan”
(Mr. Egha)
(Bersambung)
Bukankah begitu
duhai pemilik “jepretan” terbaik?
Bumi Agung, 18 Januari 2022
“Kenyamanan
dapat tercipta dari komunikasi yang mengesankan”
(Mr. Egha)
(Bersambung)
Sederhana sahaja
hanya segara biru
Membingkai riuh ombak kesahku
Aq tiada harga
Tak sedia ku tuangkan
hanya tahi angin
berhasrat menawarkanmu..
Sederhana sahaja
Hanya lilin kecil dalam bilik atma
Memerikan kemalaman batin
Aq memayahkan saja
Tiada jasa ku agihkan
Cuma mengantih bermohon
Kiranya tuhan menahbiskan
Pakuan Ratu, 19 Januari 2022
Jika para penyuluh disodorkan tiga nama; Shen Tae Yong, Ibrohim dan Aldebaran, Siapakah yang paling dikenal? Jujur saya tidak bisa untuk menerka. Bagi para pecinta bola, sosok pertama yang sudah melekat. Begitu juga, bagi penggemar Sinetron, maka sosok ketiga yang pasti juga terbayang. Lalu siapakah sosok kedua?
Saya tidak yakin, kalau semua Penyuluh memahami sosok tersebut. Pembuktian terbaik adalah dengan menggunakan "metode" menyodorkan tiga buah Durian. Apa yang terjadi? Jika hanya mengenal sebagai sosok dan nama, maka akan mengatakan, "Mari kita bagi bersama". Akan tetapi bagi yang memahami, maka sebuah jawaban lain akan muncul.
Tanyakan saja pada Brother Hidayat, sebuah jawaban pasti begitu semu. Pun jika bertanya pada Gus Yusuf, jawaban pun akan berbeda. Ternyata tiga buah Durian mampu memberikan jawaban yang berbeda. Begitulah dinamika sebuah kebersamaan dalam pertemuan perdana, Senin, 10 Januari 2022.
Kebersamaan kemarin tentu menyelipkan semangat. Hal inilah yang seyogyanya ada pada setiap penyuluh, tak terkecuali para pengurus Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan. Sebab, arunika tahun 2022 belum lama terjadi. Bukankah begitu asyik menikmati Durian dengan menaburkan sebuah semangat?
Semangat itu ada pada Nyonya Lidya juga Nona Nining, tentu juga Non Ira dan Bunda Ayni. Jarak yang ditempuh tentu bukanlah perjalanan yang ringan. Membutuhkan tenaga yang ekstra untuk melaluinya. Terlebih lagi cuaca yang membuat was-was. Jika pemahaman geografis tentang Way Kanan cukup bagus, maka akan mendapatkan jawaban jarak tempuh antara Negara Batin, Pakuan Ratu ke Blambangan Umpu.
Keempat nama diatas adalah para "Srikandi" FKPAI Kemenag Way Kanan. Mereka akan mengarungi lautan tugas bersama Kang Dana, Mas Bro, Aa Hasan, Kang Susanto, Mang Eka, Kang Muslih dan Brother Din. Tentu, sebagai sang nahkoda adalah "penguasa" seribu mushola. Brother Ibrohim.
Tentu, Ketua FKPAI Way Kanan tidak perlu mengeluarkan ajian Jaran Goyang atau Semar Mesem. Kedua ajian itu tidak diperlukan untuk memberikan semangat kerja. Menyatukan persepsi bahwa Pengurus FKPAI merupakan amanah yang harus terlaksana dengan baik, merupakan langkah bijak. Sebab, persepsi yang tidak menyatu akan menghasilkan buaian kosong ditengah era 4.0. Bukankah begitu duhai para pengurus?
Diawal ini, Saya memberikan secangkir kopi kebersamaan untuk menisbahkan alur perjalanan FKPAI. Yakinlah bahwa secangkir kopi tersebut bukan bagian dari sebuah amarah, namun bentuk lain dari menjaga sebuah kebersamaan. Yakinlah bahwa kebersamaan dapat menghasilkan kinerja yang mengabadi.
Ah, rasanya persaksian baju putih kemarin sungguh meneguhkan. Semangat yang ada sudah selayaknya diberikan apresiasi sendiri. Semoga, "perut" kita tidak semakin "membesar", namun kinerjalah yang akan membesarkan seuntai nama.
Jangan lupa untuk mengetuk pintu langit, sebagai pertanda penghambaan tertinggi. Jangan lupa juga, bahwa alur koordinasi dan birokrasi juga menjadi niscaya adanya. Selamat berkarya dalam sebuah pengabdian dan pengabadian FKPAI Kemenag Way Kanan. Mari, kita nikmati arunika dan swastamita melalui penghayatan yang sempurna. Sebab, disanalah secangkir kopi itu menjadi "barang mewah" yang mampu melambungkan asa.
Way Kanan, 12 Januari 2022
Pagi, saat matahari belum meninggi, Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Way Kanan tidak sebagaimana biasanya. Suasana cukup hangat, terlebih
lagi seduhan kopi sudah tersaji. Satu persatu para peserta sosialisasi sudah
mulai hadir. Nampak beberapa wajah yang sangat aku kenal sedang bersantai di
Aula Masjid Agung Ashabul Yamin Blambangan Umpu. Aku masih diruangan penyuluh,
menikmati suara pendingin ruangan yang menderu. Sambil menikmati air hitam, sesekali
aku melihat layar pada komputer yang tersambung. Selintas, foto sebuah jalan
mengusik jemariku untuk berdansa.
Diruangan penyuluh ini, diskusi pagi menyeruak membersamai ide dua orang sahabat, Kang Mujib dan Bang Roni. Dua orang sahabat yang sedang membicarakan tentang pandemi yang tengah berlangsung, Covid-19. Sungguh, pandemi ini merupakan wabah yang sangat merugikan banyak aspek kehidupan manusia. Sebuah diskusi yang sesekali diselingi bahasa Lampung yang menambah hangat suasana keakraban. Begitulah jalinan kekeluargaan yang terjadi.
Kopi belum terlalu dingin meskipun hidangan tidak hadir menemani
kebersamaan ini. Meskipun jujur harus diakui hidangan itu bukan segalanya.
Sebab, sebentar lagi hidangan itu tersaji dalam acara sosialisasi Inpres Nomor
2 Tahun 2021. Cukuplah obrolan ini menjadi pembuka sebelum aku bertemu dengan
rekan-rekan Penyuluh Agama Islam spesialisasi zakat. Sungguh momen ini sangat
berharga jika tidak diabadikan dalam sebuah tahta peradaban.
Agenda hari ini adalah agenda resmi sebagaimana surat undangan dari kepala Kemenag Way Kanan. Undangan ini bermakna bahwa kehadiran di aula kementerian Agama adalah bagian dari pelaksanaan tugas. Maka, menjadi sebuah keniscayaan jika pertemuan menjadi kepastian. Untuk itulah sambutan hangat meski aku berikan kepada kawan-kawan Penyuluh Agama, minimal mengabadikan keberadaan dalam sebuah foto.
Aku tersenyum saat “Muli” Gunung Labuhan hadir bersama “pengantin baru”. Nampak keakraban yang nyata. Sebuah keharmonisan yang terlahir dari ikatan persaudaraan diantara keluarga besar Kemenag. Jalinan yang tercipta dalam satu tugas besar; Penyuluh Agama Islam. Dalam konteks ini, aku bisa mengatakan bahwa berbahagialah menjadi seorang penyuluh. Bukankah begitu wahai Juleha?
Mentari sudah mulai meninggi saat Pak Muslim, Pak Muabidin dan pak Nafi
Anshori akan menaiki tangga menuju aula. Ketiga rekan ini menggunakan pakaian
yang berbeda. Meskipun begitu, tidak mengurangi pesona yang terpancar dari aura
positif. Ketiganya terus melangkah pasti. Salam khas pandemi menjadi saksi
pertemuan awal ini. Aku tersenyum, meskipun senyumanku tidak terlihat akibat
tertutup masker.
Aku teringat foto yang di uploud dari Rebang Tangkas. Sebuah perjalanan penuh dengan tantangan. Jalan yang belum bersahabat, meskipun tidak pada musim hujan. Bagiku perjuangan itu tidaklah mudah. Kepandaian dalam memilih jalan akan sangat menentukan “nasib” selanjutnya. Jika lengah sedikit atau hilang konsentrasi, maka kemungkinan besar tidak akan mampu memenuhi undangan penting ini.
Demikian juga dengan Pak Muslim dari Negeri Besar. Bu Lilis, Pak
Bahrul dan Ahmad Sidik dari Bahuga. Mekipun berasal dari kecamatan “ujung”
nampak sehat selalu. Termasuk juga “pengantin baru”, Iin dan “kakek segala tahu”
Gus Yusuf. Tak lupa juga kawan-kawan lainya. Ini menunjukkan bahwa semangat
untuk menjalankan tugas cukup menggembirakan.
Kulangkahkan kakiku menuju Aula di lantai dua. Acara akan segera
dimulai. Beberapa Kepala KUA dan Kepala Madrasah sudah hadir memenuhi tempat
yang disediakan. Langkah kakiku terhenti. Ada keinginan kuat untuk mengabadikan
sebuah moment yang jarang terjadi. Ya, momen pada sebuah anak tangga.
Agenda telah dimulai. Aku menebar pandangan keseluruh penjuru Aula.
nampak keseriusan ada pada para peserta.
Pun demikian juga dengan para pimpinan yang turut hadir. demikian juga
kawan-kawan Penyuluh agama, nampak antusias mendengarkan prsentasi yang
disampaikan. Aku lihat, sesekali nampak ada yang meminum air mineral dan
menikmati makanan ringan yang disediakan. cukup beruntung kegerahan akibat
cuaca tidak terasa, meskipun musim kemarau sedang berlangsung.
Agenda lanjutan dalam pertemuan ini adalah pemantapan Unit Pengumpul
Zakat (UPZ) pada Kantor Kemenag Way Kanan. Aku gembira, para pimpinan mempunyai
sebuah upaya untuk “menghidupkan” kembali lembaga yang pernah ada ini. Sebuah
upaya untuk menghidupkan ruh kementerian Agama melalui aksi sosial. Istilah
sederhana yang yang sering aku gunakan adalah filantropi. Istilah yang tidak
asing lagi dalam kehidupanku. Artinya kegiatan ini sudah menjadi satu kesatuan
yang komprehenship dalam sebuah dunia kerja.
Untuk pengetahuan sederhana, dapat aku sampaikan bahwa kata
Filantropi ini berasal dari dua kata Yunani yakni philos yang artinya
cinta dan anthropos yang berarti manusia. Dengan begitu filantropi
bermakna cinta pada sesama manusia dalam artian peduli pada kondisi manusia
lainnya. maka makna ini sangat cocok untuk dikembangkan oleh Kantor Kemenag Way
Kanan, sebagai salah satu upaya untuk meneguhkan sebuah eksistensi. begitulah
seyogyanya, meneguhkan eksistensi lembaga merupakan sebuah keniscayaan bagi para
pegawainya.
Sudah tepat kiranya apa yang menjadi harapan bapak Kepala Kemenag
Way Kanan. Harapan yang sudah disampaikan sudah seyogyanya mendapat respon yang
positif dari jajaran dibawahnya. Karena sesungguhnya pada wilayah kecamatan ada
Kepala KUA dan pada lingkungan Madrasah ada Kepala Madrasah. Jika peran dan
dukungan dari semua pihak dapat maksimal, maka program ini akan dapat berhasil
dengan baik.
Untuk menghidupkan ruh filantropi ini, pak kepala Kemenag menyampaikan banyak hal. Sebuah kesimpulan yang bisa diperoleh adalah adanya pemahaman bersama terkait program kebijakan yang sudah direncanakan. Disamping itu, dukungan dari seluruh keluarga besar Kemenag menjadi sebuah keniscayaan. Dalam hati aku berdoa, semoga kelak dikemudian hari, upaya yang dilakukan pagi ini menjadi sesuatu yang menggembirakan.
Agenda telah usai. Apa yang menjadi materi telah dilaksanakan
secara baik. Aku yakin dan percaya bahwa inti dari pertemuan hari ini telah
dapat ditangkap oleh kawan-kawan semua. Inilah saat yang tepat untuk kembali
mengabadikan kebersamaan, sebelum santapan siang.
Pada anak tangga yang sama, aku melangkah kembali. Pada anak tangga
yang sama, derap langkah kaki menjadi saksi. Disinilah derap itu dapat dimaknai
sebagai sebuah proses “untuk” dan “menjadi”.
Hidup Jayalah Penyuluh kita
#Penyuluhagamaislambergerak
“Gema
sholawat di penjuru negeri, Maulid Diba' maupun Al-Barzanji, ekspresi cinta
pada Nabi sejukkan sanubari, Getarkan, Hati yang sunyi, Basahi Nurani yang
kering dan tandus, Menyinari jiwa yang gelap gulita”.
(Eko Suryanto: Antologi Puisi Penyuluh
Agama Islam Way Kanan:
“
Sang Nabi” dalam “Harmoni Cinta Penyuluh”.
Hmm... Membaca Puisi Mas Eko Suryanto diatas,
aku sangat bahagia. Ya, puisi yang ditulis sebagai dedikasi dalam pembuatan
buku Antologi Puisi Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten
Way Kanan. Buku yang sangat spektakuler dan mengagumkan sebagai sebuah karya “terdahsyat”.
Bahkan, “bersejarah”, karena untuk pertamakalinya PAI Kemenag Way Kanan
menerbitkan sebuah puisi. Bahkan –menurut pak Kasi Bimas Islam Kemenag Way Kanan- bisa jadi yang
pertama di Provinsi Lampung dan Indonesia.
Inilah moment bahagia yang gayung bersambut,
khususnya Mas Eko dan Mbak Iin. Moment yang bersejarah dan membahagiakan. Meskipun
berada diatas kendaraan, kebahagiaan itu tak dapat aku sembunyikan. Betapa
indahnya saat ini bagi keduanya. Selain menjadi “raja” dan “ratu”, untaian doa
senantiasa mengalir dari sanak famili dan undangan yang hadir. Demikian juga
kebahagian akan “sempurna tatkala kata "sah" dari para saksi akan
terdengar. Membayangkan ini, aku hanya bisa tersenyum bahagia.
Roda kendaraan terus berpacu menuju rumah bahagia. Lalu lintas tak seperti biasanya. Hari ini jalanan terlihat lebih ramai. Baik kendaraan pribadi, umum atau angkutan barang. Aku berfikir apakah roda kehidupan sudah mulai bergeliat kembali ditengah wabah virus korona yang belum berakhir. Jika ya maka, hal inilah yang aku harapkan. Kehidupan "dimulai" kembali setelah "tidur panjang" dalam "balutan" masker.
Tatapanku lurus kedepan memperhatikan sepeda
motor yang penuh dengan muatan. Barang yang dibawa cukup banyak dengan beraneka
ragam corak dan warnanya. Apa yang aku lihat adalah salah satu aktifitas
kehidupan yang hampir dua tahun tidak aku saksikan. Ini juga menandakan bahwa
semangat untuk menyambung hidup adalah bagian terpenting dari kehidupan itu
sendiri.
Tugu pertigaan Way Tuba masih berdiri kokoh.
Sebuah tanda bahwa tugu tersebut menunjukkan sebuah wilayah dan sekaligus
pilihan jalan. Jika kita memilih lurus maka akan sampai di Martapura Sumatera
Selatan. Tentu aku tidak memilih jalan itu. Belok ke kanan adalah jalan yang
tentu menjadi pilihan terbaik untuk menuju kediaman Pak H. Patani. Aku memahami
betul jalan yang akan aku lalui saat ini. Aku bersyukur bahwa masih bisa
melalui jalan ini, setelah lama tak bersua dengan pepohonan sawit, karet dan
padi di persawahan jalur Way Tuba- Bahuga ini. Hehehe.
Jalan ini masih sama, belum ada perubahan
fisik yang berarti. Perbedaan yang nampak adalah tidak adanya genangan air
sebagaimana pada musim hujan. Pada jalan ini juga kutemukan kenyataan bahwa
saat ini adalah awal musim kemarau. Dalam hati aku berharap, semoga nanti saat
tiba di acara resepsi tidak benar-benar "kemarau". Cukuplah air
mineral sebagai bukti bahwa musim boleh kemarau, namun air mineral tetap
tersaji. Hehhe
Meskipun awal musim kemarau, namun persawahan
tetap teraliri air dengan baik. Terkait ini aku tidak heran karena terdapat
irigasi yang cukup bagus. Ingin rasanya turun ke sawah membersamai menanam
padi. Tapi aku tak bisa untuk saat ini turun ke sawah itu. Selain tidak membawa
ganti, aku juga tidak membawa pancing. Maka aku putuskan untuk jalan terus
ingin segera melihat senyuman bahagia kedua mempelai.
Tak sabar aku ingin menyaksikan kebahagiaan
itu. Sebuah kebahagiaan sejati yang terlahir dari benih cinta antara dua insan.
Sebuah kebahagiaan yang saat ini sudah terikat dalam janji suci, pernikahan. Janji
untuk saling mengisi, membahagiakan, menerima kekurangan dan janji-janji mulia
lainya. Dengan akad nikah ini pula, keduanya sudah masuk dalam kriteria “menyempurnakan”
agama. Sungguh kejadian yang “sakaral” nan bersejarah.
Cukup meriah. Itulah kesan yang aku dapatkan saat tiba di lokasi pernikahan. Tamu-tamu sudah banyak berdatangan. Panitia juga terlihat cukup sibuk. Sebuah kewajaran dalam resepsi pernikahan. Begitulah kehidupan, banyak beraneka ragam bunga-bunga yang menyebar dalam lini masa peradaban manusia. Termasuk saling membantu dalam menyukseskan sebuah akad nikah dan sekaligus resepsi pernikahan.
Ah...ternyata sudah ada kawan-kawan yang
hadir. Terlihat di pojok belakang si lutfi dengan baju pinknya,cukup ilegan dan
gagah. Juga ada Ust. Taswin dan Ust.Oktarius yang sedang nunggu kopi. Keduanya masih
dengan style yang tidak berubah. Sementara pak Rosidin dan Abah
Solihin berada di sebelah kiri sedang asyik bercengkrama. Sementara Ust. Din
Hadi nampak sibuk menyiapkan sesuatu. Sementara di barisan tengah, aku juga
melihat Mbak Nafisah sedang asyik makan hidangan yang sudah tersedia. Juga
banyak beberapa rekan yang juga telah hadir. Termasuk Bapak Kepala Kemenag, Pak
kasi Bimas, Pak Kasi PAPKI, kepala KUA, penghulu dan penyuluh serta rekan rekan
lainnya. Inilah salah satu kebahagiaan yang nampak.
Aku bersejajar duduk di barisan belakang
pojok kanan. Mendampingi dua sahabat dari Banjit agar kebagian kopi juga. Tentu
kopi bukanlah sebuah menu utama yang disajikan dalam resepsi ini. Akan tetapi
sebuah permintaan khusus kepada “penguasa” Buay Bahuga, Bu Sriwatin dalam perjalanan tadi telah
diutarakan. Alhamdulillah, sajian "si hitam" Akhirnya berlabuh juga
melalui panitia yang pengertian Pak Mujianto, sesaat sebelum Ketua FKPAI Way
Kanan –Ust. M. Din Hadi-memberikan tausyiah. Hehehe.
Sang “raja” dan “ratu” belum duduk pada “singgasana”
agungnya. Acara formal dalam sebuah pernikahan sedang berlangsung. Beberapa sambutan
juga disampaikan. Demikian juga Pak Kepala Kemenag Way Kanan – Bapak H. Helmi-
menyampaikan sambutan dan sekaligus mendoakan agar keduanya menjadi keluarga
yang sakinah mawadah wa rahmah. Ini adalah
bagian dari sebuah tradisi yang sering berlaku dalam peradaban dunia timur.
Sesekali aku menyeruput “air hitam” yang
masih hangat, saat Ust. Din Hadi menyampaikan tausyiah untuk kedua mempelai. Cukup lengkap jika dilihat dalam sebuah
keluarga besar Kemenag Way Kanan. Betapa tidak, kedua mempelai adalah Penyuluh
Agama Islam; yang mempunyai hajat –Pak H.Patani- merupakan pengulu; di hadiri
para pejabat Kemenag; Kepala KUA; para pengawas dan guru; para penghulu dan
penyuluh; dan panitia pun adalah keluarga besar Kemenag Way Kanan. Sungguh luar
biasa.
Aku tertawa kecil saat kata tempoyak menjadi awal dari tausyiah yang diberikan. Bahkan tamu undangan juga berekspresi sama. Mungkin tidak pernah mengira kalimat itu “masuk” sebagai pengantar. Bagiku kata tersebut tidak asing lagi bagiku. Namun aku belum mampu menikmati “kelezatan” olahan makanan tradisional itu. Entah mengapa. Secara fakta, aku lebih menyukai bahan dasarnya saja sebelum diolah. Durian.
Kopi yang tersaji belum habis. Jika bisa
disebut sebagai istimbat, maka yang
bisa diberikan adalah sebuah ungkapan dan pengharapan. Tentu, secara logis
adalah pengharapan untuk kedua mempelai. Pengharapan dalam doa-doa para
keluarga dan tamu undangan. Harapan ini bukanlah sebatas seremonial saja, akan
tetapi jauh melampau aliran air irigasi dan sungai, bahkan melebihi kepakan
sayap para “bidadari”. Inilah adalah sebuah ekpetasi yang mengelana sampai
sebuah batas yang menjadi misteri dalam kehidupan manusia.
Secara pribadi, doa dan harapanku juga adalah
sama, sebagaimana yang menjadi harapan sebuah komunitas keluarga dan
masyarakat. Hanya sedikit saja yang bisa aku tuliskan, tentu dalam rangkaian
menebar semangat di dunia penyuluh.”menikah
bukanlah akhir dari sebuah produktifitas. Dengan menikah, dua kekuatan menyatu
dalam cinta. Maka, cinta akan mampu melahirkan banyak ragam dan pola, jika kita
mampu memaknainya dengan bijaksana. Aku tunggu produktifitas itu dalam buku
kedua PAI; Antologi cerpen penyuluh”.
Akhirnya sajian “air hitam” sudah habis. Sebelum
beranjak pamit, masih ada “agenda” yang tidak boleh dilewatkan. Sebuah hidangan
telah tersaji sebagai penutup keberadaanku di rumah bahagia ini. Maka, tanpa
menunggu lama aku pun menikmati dengan dengan rasa syukur.
Bersama tamu lainya, tentu aku juga menyampaikan
ucapan selamat secara langsung. Aku melihat wajah kedua orang tua mempelai
bahagia. Terlebih lagi kedua mempelai. Senyum bahagia nampak dalam wajah Mas
Eko dan Mbak Iin. Aku tahu bahwa senyuman tersebut hadir pada saat yang tepat. Senyuman
yang terlahir dari anugerah terindah dari Yang Maha Pencipta.
Bagiku hari ini adalah hari yang bersejarah
juga. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya aku menikmati perjalanan bukan
pada jalur yang sering aku lalui. Justru perjalanan pulang ini juga menjadi
pemecah “rekor” nan bersejarah. Menikmati indahnya hamparan sawah di Provinsi
Tetangga. Sungguh jalur ini adalah yang pertama aku lalui sampai saat ini.
Belitang-Sumatera Selatan.
Sritunggal, 29 Mei 2021