Jumat, 21 Januari 2022

Episode Bahuga I (Menikmati Kenyamanan)

 

Oleh: Munawar
PAIF Kemenag Way Kanan

            Tulisan ini, tentunya tidak akan menceritakan bagaimana pertempuran Patih Gajah Mada. Bukan juga perjuangan Tuanku Imam Bonjol melawan Penjajah Belanda. Juga bukan cerita sejarah Mesir Ilir yang melegenda. Terlebih lagi cerita tentang kegiatan Bandung Bondowoso. Bukan itu.
            Cobalah bertanya kepada Pak Yusuf yang bergelar “Kakek Segala Tahu”, tentang sungai yang menjadi background swafoto yang asyik. Bisa juga bertanya kepada Hidayat, sang kameramen baru. Bertanyalah tentang semangat juang yang membahana. Mengalahkan semua kenyamanan yang ada.
            Agenda awal tahun 2022 dan sekaligus di pimpin Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kemenag Way Kanan, sungguh luar biasa menyenangkan. Bersilaturrahmi kepada rekan-rekan Penyuluh di kecamatan. Mengurai tawa, cerita dan seduhan kopi.

            Bahuga. Sungguh menyenangkan untuk di kunjungi. Alam yang masih asri dengan persawahan membentang. Udara yang sejuk menambah keasyikan untuk menikmati Bahuga secara langsung. Beruntunglah, kawan-kawan yang mengikuti agenda “Penyuluh Berbagi” yang rutin diselenggarakan oleh FKPAI Kemenag Way Kanan.

            Ah, abaikan saja celotehan Ketua FKPAI tentang kekuatan istri. Yakin saja, “Penguasa Jalanan” Ust. Hasan Isro sudah mendapatkan ijin khusus. Istilah yang membuat tertawa adalah “polisi dapur” (polda). Tapi...maaf nih, salah tidak ya menuliskan kata itu. Semoga saja tidak salah penggunaan dalam canda yang membuat Mr. Edi tertawa terpingkal-pingkal.
            Ada bukti outentik tentang kisah itu. Kisah perjalanan dan juga kisah pertemuan dengan penyuluh yang kreatif. Cerita tentang pertandingan sepak bola yang seru sampai cerita menjadi “penyelamat” para janda. Cerita terakhir inilah yang mampu membuat “Ust. seribu mushola” berdeham cukup kencang sambil menahan kantuk.
            “Kan, Penyuluh harus kreatif, to,” ujar Dayat sembari mengarahkan kamera saat menyambut Ketua FKPAI Kecamatan Bumi Agung, Yai Mansuruddin.
            “Ini mah kelewat kreatif, jika ngajak boncengan,” sahut Boim sambil tertawa yang di ikuti oleh tawa kebersamaan.
            “Tapi nyaman kan berboncengan?” ujarku sambil menyeruput kopi.
            Kedatangan Korcam Bumi Agung malam itu, justru menambah hangat suasana. Begitu antusias Kang Hasan menyambut kehadirannya. Dengan jurus komunikasi yang di miliki, canda tawa berlangsung riang gembira.
            Dengan semangat Kang Hasan bercerita tentang Si Bungsu. Nama ini cukup terkenal dengan sempurna. Terlebih lagi Si Bungsu mempunyai “musuh bebuyutan”, “Si Abah Centil”. Selalu “bertengkar” kapanpun dan di manapun. Selalu ramai dunia dan se isinya jika keduanya bertemu. Menarik jika untuk sebuah kebersamaan.
            Jujur aku sempat bingung dengan istilah “polda” dan layangan putus. Istilah yang sebenarnya ragu untuk aku tulis. Takut kena “pasal” penulisan. Namun ternyata istilah itu begitu kocak mampu membuat tertawa. Hmm ..., ternyata “polisi dapur”. Hehehe.
            Istilah kedua, ternyata sebuah judul sinetron. Aku sempat tepuk jidat. Ternyata para pecinta sinetron juga. Lumayan, ternyata ada juga yang menyukai cerita yang di tulis oleh Mommy ASF di Facebook. Nah, cerita nyata yang diangkat menjadi cerita yang mempunyai banyak penggemar.
            Sebenarnya, mata sudah mulai menggoda, meskipun suguhan kopi masih tersisa. Demikian juga, Yai Mansyurudin juga masih ingin bercerita tentang banyak hal. Aku mengisyaratkan untuk jangan melanjutkan dahulu. Bisa sampai subuh jika poin “penyelamatan” selalu muncul.
            Membersamai orang-orang hebat nan unik, memang mengesankan. Berbaur bersama terang lampu milik Mr. Edi yang begitu meyakinkan. Banyak hal yang bisa aku peroleh dari sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Nyaman sungguh nyaman.
            Pembelajaran yang muncul adalah pola penggunaan perspektif saja. Sebuah sudut pandang. Jika mampu memaknai konsepsi “Penyuluh Berbagi” dengan perspektif berbeda, akan diperoleh substansi yang mengesankan.

            Bukankah begitu duhai pemilik “jepretan” terbaik?

 

Bumi Agung, 18 Januari 2022

 

“Kenyamanan dapat tercipta dari komunikasi yang mengesankan”

(Mr. Egha)

(Bersambung)

Kamis, 20 Januari 2022

ABUYA

 


Oleh: Bukhori
PAIN KUA  Kec. Pakuan Ratu


Sederhana sahaja

hanya segara biru

Membingkai riuh ombak kesahku

Aq tiada harga

Tak sedia ku tuangkan

hanya tahi angin

berhasrat menawarkanmu..


Sederhana sahaja 

Hanya lilin kecil dalam bilik atma

Memerikan kemalaman batin

Aq memayahkan saja

Tiada jasa ku agihkan

Cuma mengantih bermohon

Kiranya tuhan menahbiskan


Pakuan Ratu, 19 Januari 2022

Rabu, 12 Januari 2022

Membersamai Proses Kematangan

Oleh: Munawar
PAIF Kemenag Way Kanan

    Jika para penyuluh disodorkan tiga nama; Shen Tae Yong, Ibrohim dan Aldebaran, Siapakah yang paling dikenal? Jujur saya tidak bisa untuk menerka. Bagi para pecinta bola, sosok pertama yang sudah melekat. Begitu juga, bagi penggemar Sinetron, maka sosok ketiga yang pasti juga terbayang. Lalu siapakah sosok kedua? 

   Saya tidak yakin, kalau semua Penyuluh memahami sosok tersebut. Pembuktian terbaik adalah dengan menggunakan "metode" menyodorkan tiga buah Durian. Apa yang terjadi? Jika hanya mengenal sebagai sosok dan nama, maka akan mengatakan, "Mari kita bagi bersama". Akan tetapi bagi yang memahami, maka sebuah jawaban lain akan muncul.

    Tanyakan saja pada Brother Hidayat, sebuah jawaban pasti begitu semu. Pun jika bertanya pada Gus Yusuf, jawaban pun akan berbeda. Ternyata tiga buah Durian mampu memberikan jawaban yang berbeda. Begitulah dinamika sebuah kebersamaan dalam pertemuan perdana, Senin, 10 Januari 2022.

    Kebersamaan kemarin tentu menyelipkan semangat. Hal inilah yang seyogyanya ada pada setiap penyuluh, tak terkecuali para pengurus Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan. Sebab, arunika tahun 2022 belum lama terjadi. Bukankah begitu asyik menikmati Durian dengan menaburkan sebuah semangat?

    Semangat itu ada pada Nyonya Lidya juga Nona Nining, tentu juga Non Ira dan Bunda Ayni. Jarak yang ditempuh tentu bukanlah perjalanan yang ringan. Membutuhkan tenaga yang ekstra untuk melaluinya. Terlebih lagi cuaca yang membuat was-was. Jika pemahaman geografis tentang Way Kanan cukup bagus, maka akan mendapatkan jawaban jarak tempuh antara Negara Batin, Pakuan Ratu ke Blambangan Umpu.

    Keempat nama diatas adalah para "Srikandi" FKPAI Kemenag Way Kanan. Mereka akan mengarungi lautan tugas bersama Kang Dana, Mas Bro, Aa Hasan, Kang Susanto, Mang Eka, Kang Muslih dan Brother Din. Tentu, sebagai sang nahkoda adalah "penguasa" seribu mushola. Brother Ibrohim.

    Tentu, Ketua FKPAI Way Kanan tidak perlu mengeluarkan ajian Jaran Goyang atau Semar Mesem. Kedua ajian itu tidak diperlukan untuk memberikan semangat kerja. Menyatukan persepsi bahwa Pengurus FKPAI merupakan amanah yang harus terlaksana dengan baik, merupakan langkah bijak. Sebab, persepsi yang tidak menyatu akan menghasilkan buaian kosong ditengah era 4.0. Bukankah begitu duhai para pengurus?

    Diawal ini, Saya memberikan secangkir kopi kebersamaan untuk menisbahkan alur perjalanan FKPAI. Yakinlah bahwa secangkir kopi tersebut bukan bagian dari sebuah amarah, namun bentuk lain dari menjaga sebuah kebersamaan. Yakinlah bahwa kebersamaan dapat menghasilkan kinerja yang mengabadi.

    Ah, rasanya persaksian baju putih kemarin sungguh meneguhkan. Semangat yang ada sudah selayaknya diberikan apresiasi sendiri. Semoga, "perut" kita tidak semakin "membesar", namun kinerjalah yang akan membesarkan seuntai nama.

    Jangan lupa untuk mengetuk pintu langit, sebagai pertanda penghambaan tertinggi. Jangan lupa juga, bahwa alur koordinasi dan birokrasi juga menjadi niscaya adanya. Selamat berkarya dalam sebuah pengabdian dan pengabadian FKPAI Kemenag Way Kanan.

    Mari, kita nikmati arunika dan swastamita melalui penghayatan yang sempurna. Sebab, disanalah secangkir kopi itu menjadi "barang mewah" yang mampu melambungkan asa.


Way Kanan, 12 Januari 2022

Rabu, 23 Juni 2021

Anak Tangga

 

Oleh: Munawar
PAIF Kemenag Way Kanan 

Pagi, saat matahari belum meninggi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan tidak sebagaimana biasanya. Suasana cukup hangat, terlebih lagi seduhan kopi sudah tersaji. Satu persatu para peserta sosialisasi sudah mulai hadir. Nampak beberapa wajah yang sangat aku kenal sedang bersantai di Aula Masjid Agung Ashabul Yamin Blambangan Umpu. Aku masih diruangan penyuluh, menikmati suara pendingin ruangan yang menderu. Sambil menikmati air hitam, sesekali aku melihat layar pada komputer yang tersambung. Selintas, foto sebuah jalan mengusik jemariku untuk berdansa.

Diruangan penyuluh ini, diskusi pagi menyeruak membersamai ide dua orang sahabat, Kang Mujib dan Bang Roni. Dua orang sahabat yang sedang membicarakan tentang pandemi yang tengah berlangsung, Covid-19. Sungguh, pandemi ini merupakan wabah yang sangat merugikan banyak aspek kehidupan manusia. Sebuah diskusi yang sesekali diselingi bahasa Lampung yang menambah hangat suasana keakraban. Begitulah jalinan kekeluargaan yang terjadi.

Kopi belum terlalu dingin meskipun hidangan tidak hadir menemani kebersamaan ini. Meskipun jujur harus diakui hidangan itu bukan segalanya. Sebab, sebentar lagi hidangan itu tersaji dalam acara sosialisasi Inpres Nomor 2 Tahun 2021. Cukuplah obrolan ini menjadi pembuka sebelum aku bertemu dengan rekan-rekan Penyuluh Agama Islam spesialisasi zakat. Sungguh momen ini sangat berharga jika tidak diabadikan dalam sebuah tahta peradaban.

Agenda hari ini adalah agenda resmi sebagaimana surat undangan dari kepala Kemenag Way Kanan. Undangan ini bermakna bahwa kehadiran di aula kementerian Agama adalah bagian dari pelaksanaan tugas. Maka, menjadi sebuah keniscayaan jika pertemuan menjadi kepastian. Untuk itulah sambutan hangat meski aku berikan kepada kawan-kawan Penyuluh Agama, minimal mengabadikan keberadaan dalam sebuah foto.

Aku tersenyum saat “Muli” Gunung Labuhan hadir bersama “pengantin baru”. Nampak keakraban yang nyata. Sebuah keharmonisan yang terlahir dari ikatan persaudaraan diantara keluarga besar Kemenag. Jalinan yang tercipta dalam satu tugas besar; Penyuluh Agama Islam. Dalam konteks ini, aku bisa mengatakan bahwa berbahagialah menjadi seorang penyuluh. Bukankah begitu wahai Juleha?

Mentari sudah mulai meninggi saat Pak Muslim, Pak Muabidin dan pak Nafi Anshori akan menaiki tangga menuju aula. Ketiga rekan ini menggunakan pakaian yang berbeda. Meskipun begitu, tidak mengurangi pesona yang terpancar dari aura positif. Ketiganya terus melangkah pasti. Salam khas pandemi menjadi saksi pertemuan awal ini. Aku tersenyum, meskipun senyumanku tidak terlihat akibat tertutup masker.

Aku teringat foto yang di uploud dari Rebang Tangkas. Sebuah perjalanan penuh dengan tantangan. Jalan yang belum bersahabat, meskipun tidak pada musim hujan. Bagiku perjuangan itu tidaklah mudah. Kepandaian dalam memilih jalan akan sangat menentukan “nasib” selanjutnya. Jika lengah sedikit atau hilang konsentrasi, maka kemungkinan besar tidak akan mampu memenuhi undangan penting ini.

Demikian juga dengan Pak Muslim dari Negeri Besar. Bu Lilis, Pak Bahrul dan Ahmad Sidik dari Bahuga. Mekipun berasal dari kecamatan “ujung” nampak sehat selalu. Termasuk juga “pengantin baru”, Iin dan “kakek segala tahu” Gus Yusuf. Tak lupa juga kawan-kawan lainya. Ini menunjukkan bahwa semangat untuk menjalankan tugas cukup menggembirakan.

Kulangkahkan kakiku menuju Aula di lantai dua. Acara akan segera dimulai. Beberapa Kepala KUA dan Kepala Madrasah sudah hadir memenuhi tempat yang disediakan. Langkah kakiku terhenti. Ada keinginan kuat untuk mengabadikan sebuah moment yang jarang terjadi. Ya, momen pada sebuah anak tangga.

Agenda telah dimulai. Aku menebar pandangan keseluruh penjuru Aula. nampak keseriusan ada pada para  peserta. Pun demikian juga dengan para pimpinan yang turut hadir. demikian juga kawan-kawan Penyuluh agama, nampak antusias mendengarkan prsentasi yang disampaikan. Aku lihat, sesekali nampak ada yang meminum air mineral dan menikmati makanan ringan yang disediakan. cukup beruntung kegerahan akibat cuaca tidak terasa, meskipun musim kemarau sedang berlangsung.

Agenda lanjutan dalam pertemuan ini adalah pemantapan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) pada Kantor Kemenag Way Kanan. Aku gembira, para pimpinan mempunyai sebuah upaya untuk “menghidupkan” kembali lembaga yang pernah ada ini. Sebuah upaya untuk menghidupkan ruh kementerian Agama melalui aksi sosial. Istilah sederhana yang yang sering aku gunakan adalah filantropi. Istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupanku. Artinya kegiatan ini sudah menjadi satu kesatuan yang komprehenship dalam sebuah dunia kerja.

Untuk pengetahuan sederhana, dapat aku sampaikan bahwa kata Filantropi ini berasal dari dua kata Yunani yakni philos yang artinya cinta dan anthropos yang berarti manusia. Dengan begitu filantropi bermakna cinta pada sesama manusia dalam artian peduli pada kondisi manusia lainnya. maka makna ini sangat cocok untuk dikembangkan oleh Kantor Kemenag Way Kanan, sebagai salah satu upaya untuk meneguhkan sebuah eksistensi. begitulah seyogyanya, meneguhkan eksistensi lembaga merupakan sebuah keniscayaan bagi para pegawainya.

Sudah tepat kiranya apa yang menjadi harapan bapak Kepala Kemenag Way Kanan. Harapan yang sudah disampaikan sudah seyogyanya mendapat respon yang positif dari jajaran dibawahnya. Karena sesungguhnya pada wilayah kecamatan ada Kepala KUA dan pada lingkungan Madrasah ada Kepala Madrasah. Jika peran dan dukungan dari semua pihak dapat maksimal, maka program ini akan dapat berhasil dengan baik.

Untuk menghidupkan ruh filantropi ini, pak kepala Kemenag menyampaikan banyak hal. Sebuah kesimpulan yang bisa diperoleh adalah adanya pemahaman bersama terkait program kebijakan yang sudah direncanakan. Disamping itu, dukungan dari seluruh keluarga besar Kemenag menjadi sebuah keniscayaan. Dalam hati aku berdoa, semoga kelak dikemudian hari, upaya yang dilakukan pagi ini menjadi sesuatu yang menggembirakan.

Agenda telah usai. Apa yang menjadi materi telah dilaksanakan secara baik. Aku yakin dan percaya bahwa inti dari pertemuan hari ini telah dapat ditangkap oleh kawan-kawan semua. Inilah saat yang tepat untuk kembali mengabadikan kebersamaan, sebelum santapan siang.

Pada anak tangga yang sama, aku melangkah kembali. Pada anak tangga yang sama, derap langkah kaki menjadi saksi. Disinilah derap itu dapat dimaknai sebagai sebuah proses “untuk” dan “menjadi”.

Hidup Jayalah Penyuluh kita

Blambangan Umpu, 23 Juni 2021

 

#Penyuluhagamaislambergerak

Minggu, 30 Mei 2021

Cinta Sang Penyuluh


Oleh: Munawar
PAIF Kemenag Way Kanan


“Gema sholawat di penjuru negeri, Maulid Diba' maupun Al-Barzanji, ekspresi cinta pada Nabi sejukkan sanubari, Getarkan, Hati yang sunyi, Basahi Nurani yang kering dan tandus, Menyinari jiwa yang gelap gulita”.

(Eko Suryanto: Antologi Puisi Penyuluh Agama Islam Way Kanan:

 “ Sang Nabi” dalam “Harmoni Cinta Penyuluh”.

 

Hmm... Membaca Puisi Mas Eko Suryanto diatas, aku sangat bahagia. Ya, puisi yang ditulis sebagai dedikasi dalam pembuatan buku Antologi Puisi Penyuluh Agama Islam (PAI) Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Way Kanan. Buku yang sangat spektakuler dan mengagumkan sebagai sebuah karya “terdahsyat”. Bahkan, “bersejarah”, karena untuk pertamakalinya PAI Kemenag Way Kanan menerbitkan sebuah puisi. Bahkan –menurut pak Kasi Bimas Islam Kemenag Way Kanan- bisa jadi yang pertama di Provinsi Lampung dan Indonesia.

Inilah moment bahagia yang gayung bersambut, khususnya Mas Eko dan Mbak Iin. Moment yang bersejarah dan membahagiakan. Meskipun berada diatas kendaraan, kebahagiaan itu tak dapat aku sembunyikan. Betapa indahnya saat ini bagi keduanya. Selain menjadi “raja” dan “ratu”, untaian doa senantiasa mengalir dari sanak famili dan undangan yang hadir. Demikian juga kebahagian akan “sempurna tatkala kata "sah" dari para saksi akan terdengar. Membayangkan ini, aku hanya bisa tersenyum bahagia.

Roda kendaraan terus berpacu menuju rumah bahagia. Lalu lintas tak seperti biasanya. Hari ini jalanan terlihat lebih ramai. Baik kendaraan pribadi, umum atau angkutan barang. Aku berfikir apakah roda kehidupan sudah mulai bergeliat kembali ditengah wabah virus korona yang belum berakhir. Jika ya maka, hal inilah yang aku harapkan. Kehidupan "dimulai" kembali setelah "tidur panjang" dalam "balutan" masker.

Tatapanku lurus kedepan memperhatikan sepeda motor yang penuh dengan muatan. Barang yang dibawa cukup banyak dengan beraneka ragam corak dan warnanya. Apa yang aku lihat adalah salah satu aktifitas kehidupan yang hampir dua tahun tidak aku saksikan. Ini juga menandakan bahwa semangat untuk menyambung hidup adalah bagian terpenting dari kehidupan itu sendiri.

Tugu pertigaan Way Tuba masih berdiri kokoh. Sebuah tanda bahwa tugu tersebut menunjukkan sebuah wilayah dan sekaligus pilihan jalan. Jika kita memilih lurus maka akan sampai di Martapura Sumatera Selatan. Tentu aku tidak memilih jalan itu. Belok ke kanan adalah jalan yang tentu menjadi pilihan terbaik untuk menuju kediaman Pak H. Patani. Aku memahami betul jalan yang akan aku lalui saat ini. Aku bersyukur bahwa masih bisa melalui jalan ini, setelah lama tak bersua dengan pepohonan sawit, karet dan padi di persawahan jalur Way Tuba- Bahuga ini. Hehehe.

Jalan ini masih sama, belum ada perubahan fisik yang berarti. Perbedaan yang nampak adalah tidak adanya genangan air sebagaimana pada musim hujan. Pada jalan ini juga kutemukan kenyataan bahwa saat ini adalah awal musim kemarau. Dalam hati aku berharap, semoga nanti saat tiba di acara resepsi tidak benar-benar "kemarau". Cukuplah air mineral sebagai bukti bahwa musim boleh kemarau, namun air mineral tetap tersaji. Hehhe

Meskipun awal musim kemarau, namun persawahan tetap teraliri air dengan baik. Terkait ini aku tidak heran karena terdapat irigasi yang cukup bagus. Ingin rasanya turun ke sawah membersamai menanam padi. Tapi aku tak bisa untuk saat ini turun ke sawah itu. Selain tidak membawa ganti, aku juga tidak membawa pancing. Maka aku putuskan untuk jalan terus ingin segera melihat senyuman bahagia kedua mempelai.

Tak sabar aku ingin menyaksikan kebahagiaan itu. Sebuah kebahagiaan sejati yang terlahir dari benih cinta antara dua insan. Sebuah kebahagiaan yang saat ini sudah terikat dalam janji suci, pernikahan. Janji untuk saling mengisi, membahagiakan, menerima kekurangan dan janji-janji mulia lainya. Dengan akad nikah ini pula, keduanya sudah masuk dalam kriteria “menyempurnakan” agama. Sungguh kejadian yang “sakaral” nan bersejarah.

Cukup meriah. Itulah kesan yang aku dapatkan saat tiba di lokasi pernikahan. Tamu-tamu sudah banyak berdatangan. Panitia juga terlihat cukup sibuk. Sebuah kewajaran dalam resepsi pernikahan. Begitulah kehidupan, banyak beraneka ragam bunga-bunga yang menyebar dalam lini masa peradaban manusia. Termasuk saling membantu dalam menyukseskan sebuah akad nikah dan sekaligus resepsi pernikahan.

Ah...ternyata sudah ada kawan-kawan yang hadir. Terlihat di pojok belakang si lutfi dengan baju pinknya,cukup ilegan dan gagah. Juga ada Ust. Taswin dan Ust.Oktarius yang sedang nunggu kopi. Keduanya masih dengan style  yang tidak berubah. Sementara pak Rosidin dan Abah Solihin berada di sebelah kiri sedang asyik bercengkrama. Sementara Ust. Din Hadi nampak sibuk menyiapkan sesuatu. Sementara di barisan tengah, aku juga melihat Mbak Nafisah sedang asyik makan hidangan yang sudah tersedia. Juga banyak beberapa rekan yang juga telah hadir. Termasuk Bapak Kepala Kemenag, Pak kasi Bimas, Pak Kasi PAPKI, kepala KUA, penghulu dan penyuluh serta rekan rekan lainnya. Inilah salah satu kebahagiaan yang nampak.

Aku bersejajar duduk di barisan belakang pojok kanan. Mendampingi dua sahabat dari Banjit agar kebagian kopi juga. Tentu kopi bukanlah sebuah menu utama yang disajikan dalam resepsi ini. Akan tetapi sebuah permintaan khusus kepada “penguasa” Buay Bahuga,  Bu Sriwatin dalam perjalanan tadi telah diutarakan. Alhamdulillah, sajian "si hitam" Akhirnya berlabuh juga melalui panitia yang pengertian Pak Mujianto, sesaat sebelum Ketua FKPAI Way Kanan –Ust. M. Din Hadi-memberikan tausyiah. Hehehe.

Sang “raja” dan “ratu” belum duduk pada “singgasana” agungnya. Acara formal dalam sebuah pernikahan sedang berlangsung. Beberapa sambutan juga disampaikan. Demikian juga Pak Kepala Kemenag Way Kanan – Bapak H. Helmi- menyampaikan sambutan dan sekaligus mendoakan agar keduanya menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Ini adalah bagian dari sebuah tradisi yang sering berlaku dalam peradaban dunia timur.

Sesekali aku menyeruput “air hitam” yang masih hangat, saat Ust. Din Hadi menyampaikan tausyiah untuk kedua mempelai. Cukup lengkap jika dilihat dalam sebuah keluarga besar Kemenag Way Kanan. Betapa tidak, kedua mempelai adalah Penyuluh Agama Islam; yang mempunyai hajat –Pak H.Patani- merupakan pengulu; di hadiri para pejabat Kemenag; Kepala KUA; para pengawas dan guru; para penghulu dan penyuluh; dan panitia pun adalah keluarga besar Kemenag Way Kanan. Sungguh luar biasa.

Aku tertawa kecil saat kata tempoyak menjadi awal dari tausyiah yang diberikan. Bahkan tamu undangan juga berekspresi sama. Mungkin tidak pernah mengira kalimat itu “masuk” sebagai pengantar. Bagiku kata tersebut tidak asing lagi bagiku. Namun aku belum mampu menikmati “kelezatan” olahan makanan tradisional itu. Entah mengapa. Secara fakta, aku lebih menyukai bahan dasarnya saja sebelum diolah. Durian.

Kopi yang tersaji belum habis. Jika bisa disebut sebagai istimbat, maka yang bisa diberikan adalah sebuah ungkapan dan pengharapan. Tentu, secara logis adalah pengharapan untuk kedua mempelai. Pengharapan dalam doa-doa para keluarga dan tamu undangan. Harapan ini bukanlah sebatas seremonial saja, akan tetapi jauh melampau aliran air irigasi dan sungai, bahkan melebihi kepakan sayap para “bidadari”. Inilah adalah sebuah ekpetasi yang mengelana sampai sebuah batas yang menjadi misteri dalam kehidupan manusia.

Secara pribadi, doa dan harapanku juga adalah sama, sebagaimana yang menjadi harapan sebuah komunitas keluarga dan masyarakat. Hanya sedikit saja yang bisa aku tuliskan, tentu dalam rangkaian menebar semangat di dunia penyuluh.”menikah bukanlah akhir dari sebuah produktifitas. Dengan menikah, dua kekuatan menyatu dalam cinta. Maka, cinta akan mampu melahirkan banyak ragam dan pola, jika kita mampu memaknainya dengan bijaksana. Aku tunggu produktifitas itu dalam buku kedua PAI; Antologi cerpen penyuluh”.

Akhirnya sajian “air hitam” sudah habis. Sebelum beranjak pamit, masih ada “agenda” yang tidak boleh dilewatkan. Sebuah hidangan telah tersaji sebagai penutup keberadaanku di rumah bahagia ini. Maka, tanpa menunggu lama aku pun menikmati dengan dengan rasa syukur.

Bersama tamu lainya, tentu aku juga menyampaikan ucapan selamat secara langsung. Aku melihat wajah kedua orang tua mempelai bahagia. Terlebih lagi kedua mempelai. Senyum bahagia nampak dalam wajah Mas Eko dan Mbak Iin. Aku tahu bahwa senyuman tersebut hadir pada saat yang tepat. Senyuman yang terlahir dari anugerah terindah dari Yang Maha Pencipta.

Bagiku hari ini adalah hari yang bersejarah juga. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya aku menikmati perjalanan bukan pada jalur yang sering aku lalui. Justru perjalanan pulang ini juga menjadi pemecah “rekor” nan bersejarah. Menikmati indahnya hamparan sawah di Provinsi Tetangga. Sungguh jalur ini adalah yang pertama aku lalui sampai saat ini. Belitang-Sumatera Selatan.


Sritunggal, 29 Mei 2021